Webinar Nasional IRSSA FISIP UNSRI “Dampak Pemanasan Global dan Strategi Australia”

Jumat, 22 April 2022 – Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional  (IRSSA) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sriwijaya menyelenggarakan kegiatan Webinar Nasional IRSSA UNSRI yang membahas mengenai “Dampak Pemanasan Global dan Strategi Australia”

Dimana pada acara Webinar Nasional Ini, Project Initiator mengundang Narasumber yang berpengalaman di Bidangnya, Narasumber tersebut adalah:

Dr. Santo Darmosumarto

Direktur Asia Timur dan Pasifik Kemlu RI

Project Initiator pada acara Webinar Nasional IRSSA UNSRI merupakan Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Sriwijaya, diantaranya adalah:

1. Linda Septiani Sebianto

2. Jessica Sarah Natalia

3. Tegar Bagus Susilo

Pada Acara Webinar Nasional IRSSA UNSRI terdapat Sambutan – Sambutan. Sambutan yang pertama disampaikan oleh Perwakilan Project Initiator yaitu Jessica Sarah Natalia. Beliau mengucapkan terima kasih kepada Narasumber yang telah bersedia untuk memberikan insightful baru mengenai Dampak Pemanasan Global dan Strategi Australia. beliau menyampaikan terima kasih juga kepada Peserta yang telah meluangkan waktu untuk dapat membersamai Webinar Nasional IRSSA UNSRI ini.

Sambutan yang kedua disampaikan oleh Dosen Pengampu pada mata kuliah Studi Kawasan Asia Pasifik Bapak Yusuf Abror S.IP, MA. Beliau mengucapkan terima kasih banyak kepada Narasumber karena telah berkenan untuk berbagi Insightful baru mengenai Pemanasan Global yang sedang terjadi pada saat ini. Beliau menyampaikan bahwasannya Project yang diselenggarakan oleh Rekan – Rekan Panitia Penyelenggara Webinar ini sudah sangat bagus yang dimana memiliki output terhadap Khalayak luas khususnya mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Sriwijaya. Beliau menyampaikan bahwa Dengan hadirnya program Kampus Merdeka, mahasiswa diberikan kebebasan untuk menentukan bentuk mekanisme UTS maupun UAS sebagai bentuk penilaian mata kuliah yang diampuh oleh Bapak Yusuf, Selama Project yang diselenggarakan itu memiliki dampak terhadap khalayak luas, maka Mahasiswa telah memaksimalkan perannya sebagai salah satu agent of change.  Beliau menyampaikan bahwa Permasalahan Pemanasan Global yang terjadi pada saat ini memberikan dampak yang besar bagi dunia, terlebih  pada konteks negara Australia dan negara kepulauan Pasifik lainnya yang sangat rentan akibat hal ini.

Sambutan yang terakhir diberikan oleh Ketua Jurusan Ilmu Hubungan Internasional FISIP UNSRI yaitu Bapak Sofyan Effendi, S.IP., M.Si sekaligus membuka acara Webinar Nasional IRSSA UNSRI ini. Beliau sangat mendukung kegiatan akademis yang diselenggarakan oleh project initiator Webinar Nasional IRSSA UNSRI, Beliau berterimakasih kepada Narasumber yang telah berkenan hadir melalui Zoom untuk berbagi pengetahuan terhadap khalayak Umum terutama mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Sriwijaya. Beliau berharap di kesempatan yang akan datang nanti dapat bertemu secara langsung dengan Bapak Dr. Santo Darmosumarto untuk berbincang – bincang sekaligus menjalin tali silatuhrami di Kampus Universitas Sriwijaya maupun di Kota Palembang. “Isu pemanasan Global menjadi penting untuk dibahas karena tidak hanya menyangkut mengenai perubahan iklim saja, melainkan keberlangsungan Umat manusia itu sendiri, sehingga dibutuhkan peran dari aktor Negara yang memiliki otoritas tertinggi dalam pengambilan kebijakan yang ramah lingkungan. Mitra Strategis juga diperlukan dalam menghandle permasalahan Pemanasan Global ini baik secara bilateral maupun multilateral” Ujar Bapak Sofyan.

Acara Webinar Nasional IRSSA UNSRI dipandu oleh Mahasiswi Hubungan Internasional yaitu Linda Septiani Sebianto yang bertugas sebagai MC mulai dari pembukaan hingga berakhirnya penyampaian sambutan – sambutan. Acara kemudian dialihkan ke Moderator guna memandu jalannya pemaparan hingga diskusi sesi tanya jawab berlangsung. Moderator disini merupakan Dosen Ilmu Hubungan Internasional Universitas Sriwijaya yaitu Ibu Nur Aslamiah Supli, BIAM., M.Sc

Pemaparan materi pun berlangsung dipaparkan oleh Bapak Dr. Santo Darmosumarto. Titik berat pembahasan yang dipaparkan oleh Bapak Dr. Santo adalah terkait berbagai macam bentuk dinamika yang muncul dalam merespons Pemanasan Global di Kawasan Asia Pasifik yang diantaranya adalah: Mitra Strategis Australia – Indonesia dalam mengatasi Pemanasan Global,  Kebijakan yang dihadirkan oleh Australia dalam merespons pemanasan Global di Kawasan Asia Pasifik, Respons negara Pasifik terhadap Pemanasan Global, Kemitraan Internasional yang diselenggarakan oleh Australia terhadap negara di luar kawasan Pasifik, Dampak Perubahan Iklim, Sumber emisi gas Rumah Kaca, dan Komitmen Internasional.

Pada pemaparan point diMitra Strategis Australia dengan Indonesia, beliau menjelaskan bahwa tidak sedikit komitmen yang dilakukan secara hubungan bilateral dari kedua negara tersebut berhasil diimplementasikan terhadap mekanisme hingga berhasil dibawa ke forum multilateral seperti G20. Untuk mekanisme yang bisa dilihat adalah pengimplementasian kendaraan berbasis listrik yang ramah lingkungan yang dimana Indonesia menghadirkan Investasi terhadap negara Indonesia dalam mensuplai Investasi tersebut terhadap Industri Baterai agar dapat mengembangkan kendaraan berbasis listrik di Indonesia. Kolaborasi antara Indonesia dengan Australia dalam menerapkan energi yang terbaharukan dan minim dari emisi karbon agar dapat menciptakan zona bebas polusi, pada Forum Internasional: Indonesia – Australia berhasil membawa permasalahan Pemanasan Global ke forum UNFCC, Indonesia – Australia Energy Dialogue, dan Sydney Energy Forum. Konteks Forum Internasional memiliki peranan yang sangat besar dalam mempengaruhi arah pembahasan negara yang bergabung ke dalam forum tersebut agar satu pemikiran dengan Komitmen Indonesia – Australia ini dengan output berupa harapan dimana pada akhirnya negara yang bergabung di forum Internasional dapat memperbarui kebijakan Industri yang bersifat ramah lingkungan.

Pada pemaparan point Kebijakan yang dihadirkan oleh Australia dalam merespons pemanasan Global di Kawasan Asia Pasifik adalah dimana Australia menghadirkan Kebijakan yang bersifat ramah lingkungan diantaranya adalah: Long – Term Emission Reduction Plan yang dimana kebijakan ini berorientasi terhadap penurunan emisi karbon yang sepenuhnya dapat mencapai angka nol pada tahun 2050 mendatang namun disaat bersamaan dapat melindungi surplus pendapatan GDP nasional negara sekaligus memperkuat ekonomi negara Australia itu sendiri. Lalu ada Technology Investment Roadmap, dimana Australia berupaya agar dapat membangun teknologi yang mengeluarkan emisi karbon rendah dengan biaya yang tidak mahal. Lalu yang terakhir adalah Kebijakan dalam negeri Australia dalam mengatasi pemanasan Global yaitu melalui: Emissions Reduction Fund (ERF) yang dimana Australia menggelontorkan insentif terhadap pebisnis agar dapat menciptakan Green Economy (Aktivitas Ekonomi yang dimana disamping berorientasi profit juga dapat berdampak terhadap pelestarian lingkungan). Efektivitas ERF bisa dilihat pada tahun 2020 yang dimana mereka berhasil menurunkan emisi gas hingga 80 juta ton.

Pada pemaparan point Respons negara Pasifik terhadap Pemanasan Global adalah dimana dalam mengatasi permasalahan Pemanasan Global tidak hanya dihandle oleh Australia melainkan ada sumbagsih dari negara kepulauan Pasifik. Hal ini diimplementasikan melalui Pacific Islands Forum (PIF) yang diselenggarakan di Tuvalu pada tahun 2019.

Pada Pemaparan Point Kemitraan Internasional yang diselenggarakan oleh Australia terhadap negara di luar kawasan Pasifik. Permasalahan Pemanasan Global membutuhkan Komitmen yang besar dari negara – negara lainnya dan ini diimplementasikan melalui berbagai bentuk mulai dari skala Hubungan Bilateral dengan Inggris, Jerman, Korea Selatan, Jepang dan Singapura yang dimana melalui skema Hubungan bilateral ini diwujudkan dengan hadirnya co-financing untuk proyek teknologi rendah emisi. Selanjutnya ada, Indo-Pacific Carbon Offsets Scheme yang dimana pada skema Kemitraan Internasional yang ini membantu negara Indo-Pasifik guna memperdagangkan Carbon-offset.

Dampak Perubahan Iklim dapat berpotensi terjadinya Climate Refugee (Pengungsi akibat Perubahan Iklim), Potensi yang muncul ketika pemanasan Global marak terjadi dapat menimbulkan lonjakan pengungsi dari negara yang terdampak parah, terutama negara pasifik yang paling terdampak bahkan pulau mereka dapat tenggelam dalam waktu dekat jika permasalahan pemanasan Global dikesampingkan.

Sumber emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari Australia telah menyumbang emisi karbon di posisi peringkat 8 dunia. Dimana sebanyak 35% emisi ditujukan sebagai bahan bakar untuk menyumbang kebutuhan listrik Australia. Sebagian besar sebanyak 75% pembangkit listrik Australia berbasis SDA yang tidak terbaharukan dan hanya sekitar 24% Pembangkit Listrik Australia menggunakan Sumber berbasis yang terbaharukan.

Setelah keseluruhan point pemaparan pada Webinar ini disampaikan oleh Bapak Dr. Santo, Moderator membuka sesi tanya jawab dengan para participants yang hadir. Sesi tanya jawab pun berlangsung dengan menunjukkan antusias yang cukup interaktif antara narasumber dengan Peserta. Namun, dikarenakan keterbatasan waktu yang dimana menunjukkan mendekati dengan Shalat Jum’at Sesi tanya jawab hanya dibatasi sebanyak 3 pertanyaan saja.

Setelah sesi tanya jawab berakhir, Sesi dokumentasi sekaligus penyerahan sertifikat terhadap Narasumber dilakukan sebagai bentuk penghargaan, penyerahan sertifikat yang selanjutnya diberikan oleh panitia dari project Initiator terhadap Ibu Nur Aslamiah yang telah menjadi Moderator pada Webinar Nasional ini.

Webinar Nasional ini berhasil meraih jumlah participants yang cukup banyak yaitu 80+ untuk dapat hadir di webinar ini.

IRSSA FISIP UNSRI pada Kabinet Nawasena Abyakta disini tidak hanya berfokus terhadap bagaimana kemudian akhirnya menyelesaikan keseluruhan proker yang melibatkan pengurus saja tetapi mendukung kegiatan yang dilakukan Mahasiswa non-pengurus karena pada dasarnya IRSSA merangkul semua elemen mahasiswa Hi Unsri sehingga apapun aspirasi maupun permintaan yang datang kepada IRSSA akan diusahakan untuk dapat terpenuhi.