Kegiatan Terbaru

Kuliah Umum (Webinar): Perbatasan Negara Kokoh untuk Indonesia Tangguh dan Tumbuh.

Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) RI bekerjasama dengan institusi perguruan tinggi Indonesia melakukan kuliah umum tentang Inovasi SAINS untuk pembangunan perbatasan Indonesia pada Jumat, 17 Sepetember 2021, dengan Keynote Speech: Menkopolhukam/ Ketua Pengarah BNPP yaitu Prof. Dr. Mohammad Mahfud MD, S.H., S.U.,M.I.P. Kegiatan tersebut juga diikuti Peluncuran dan Pencanangan POCADI, buku FORPERTAS dan GNSTA.

Narasumber dalam webinar ini antara lain:

  1. Prof. Dr. Suratman, M.Sc (Universitas Gadjah Mada)
  2. Dr. Elyta, S.Sos., M.Si (Universitas Tanjungpura)
  3. Baiq Wardhani, Ph.D (Universitas Airlangga)
  4. Prof. Drs. Muhammad Fadhil Nurdin, M.A., Ph.D (Universitas Padjadjaran)
  5. Randi, S.Sos., M.Sos (Universitas Sriwijaya)
  6. Irman Irawan, S.Pi, M.P, M.Sc, Ph.D (Universitas Mulawarman)
  7. Dr. Laila Kholid Alfirdaus, S.IP.,MPP (Universitas Diponegoro)
  8. Prof. Dr. Ir. Dewi Apri Astuti, M.S (Institut Pertanian Bogor)
  9. Dr. Chairil Nur Siregar (Institut Teknologi Bandung)

Muhmmad Tito Karnavian MENDAGRI/KEPALA BNPP mengungkapkan bahwa Forum Perguruan Tinggi untuk perbatasan Negara (FOPERTAS) telah menghasilkan sebuah buku yang merupakan salah satu sumber pengetahuan (knowledge resource) dari kerjasama yang sudah berlangsung.

Selama ini, sebagai wujud kolaborasi penthahelix dalam pengelolaan perbatasan Negara. Kerjasama dengan FOPERTAS sebagai intellectual, guna menginplementasikan Dan memberi kontribusi terhadap grand design konsep kampus merdeka dan merdeka Belajar bagi mahasiswa, siswa, serta generasi muda lainnnya, khususnya dapat melahirkan inovasi-inovasi baru dengan buku-buku tentang inovasi dalam rangka mendorong pemberdayaan masyarakat perbatasan sehingga perbatasan juga menjadi titik ekonomi baru bagi bangsa Kita.

Randi selaku dosen Sosiologi UNSRI mengemukakan gagasan tentang Model pembangunan pendidikan daerah perbatasan Indonesia (perspektif Sosiologi pendidikan) karena melihat pentingnya pendidikan bagi masyarakat di perbatasan utamanya untuk menyelesaikan wajib belajar 9 tahun. Ia juga mengemukakan bahwa masih banyak masyarakat perbatasan, terluar dan terpencil (3T) yang belum mendapatkan pendidikan yang layak sehingga pemerintah perlu memberikan beasiswa yang menyasar masyarakat di wilayah 3T. (Jurusan Sosiologi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *