“Share The Education To Peaceful World Direktorat” Reserse Narkoba POLDA Sumsel goes to FISIP UNSRI

Maraknya Perdagangan Narkotika dan Obat/bahan Berbahaya (NARKOBA) atau Drug Trafficking di Sumatera Selatan telah meresahkan masyarakat. Berangkat dari keresahan itu, Dr. Zulfikri Suleman, MA dan Ibu Nur Aslamiah Supli, BIAM, M.Sc, selaku pengajar Mata Kuliah Kejahatan Transnasional, memberikan pengetahuan dan wawasan kepada Mahasiswa/i Program Studi Ilmu Hubungan Internasional Angkatan 2017 Kampus Palembang tentang maraknya perdagangan narkotika dan obat/bahan berbahaya (NARKOBA) atau Drug Trafficking di Sumatera Selatan dengan mendatangkan narasumber dari Direktorat Reserse Narkoba POLDA Sumsel untuk mengadakan pembinaan penyuluhan sambang tentang bahaya narkoba sekaligus Forum Group Discussion (FGD) untuk berdiskusi masa depan dan solusi mencegah perdagangan narkoba di Indonesia khususnya di wilayah Sumatera Selatan. (Kamis, 19/03/2020)

Narasumber dari FGD ini adalah bapak AKBP Edy Nugroho, SE didampingi dengan Bapak AIPDA Indra Jaya Zaral, SH dan AIPDA A. Idrian Pahlepi, S.Sos,I, M.Si. Beliau menyampaikan beberapa poin penting yang menjadi catatan adik-adik perwakilan mahasiswa yang berdiskusi yaitu:

  1. Indonesia merupakan negara yang sangat strategis dimana Indonesia merupakan negara yang diapit oleh dua benua yaitu Asia dan Australia serta dua samudera yaitu Pasifik dan Hindia. Hal ini yang membuat segala bentuk Kejahatan Transnasional salah satu nya Drug Trafficking dapat dengan mudah masuk kedalam negara baik Nasional maupun Internasional.
  2. Mudahnya pengedar melakukan transaksi nya dengan melalui jalur laut dan udara yang dimana Indonesia masih sangat kurang dalam pengamanan laut dan udaranya
  3. Hampir sekitar 8 juta penduduk SUMSEL menggunakan obat-obat terlarang yang berjenis Sabu, Kokain dan lain-lain.

Bapak AKBP Edy Nugroho, S.E mengakui kesulitan dalam menindak perdagangan NARKOBA karena beberapa hal seperti :

  1. Indonesia masih sangat lemah dalam sistem hukumnya, hukum Indonesia masih belum tegas dalam melakukan tindakan serta dalam memberi hukuman kepada para pengedar dan pengguna.
  2. Adanya Oknum yang melakukan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) baik itu polisi atau pihak yang berkaitan, sehingga pengedaran narkotika ilegal di dalam sel tahanan dapat dilaksanakan dengan mudah. 
  3. 72 jaringan aktif pengedar narkoba dan negara yang terlibat diantaranya berjumlah lebih dari 11 negara.
  4. Belum optimal kerjasama lintas sectoral disetiap wilayah Indonesia

Dalam diskusi tersebut terdapat dua pertanyaan mahasiswa yang menjadi sorotan utama yaitu apakah memungkinkan melakukan pendekatan lunak (soft approach) terhadap para pelaku narkoba dan apakah mungkin untuk melegalkan NARKOBA terkhusus ganja dengan alasan untuk kesehatan?, menanggapi pertanyaan tersebut Bapak AKBP Nugroho S.E mengatakan “natural bangsa Indonesia tidak cocok untuk soft approach dan Natural media Indonesia drama dan manipulator”. Untuk saat ini menurut beliau Preventif adalah jawaban terbaik, memberikan edukasi dan sosialisasi. (HI 17 Bukit Palembang)