Fisip Unsri

Melangkah Maju Bersama Kami

  • Share |

    [adji] alamsyah

    23 April 2013, 21:32, dibaca 2703 kali

    [adji] alamsyah

    Narasi dari Blambangan: sebuah catatan perjalanan

    Seperti tahun-tahun sebelumnya, pemerintah pusat melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melaksanakan ritual tahunan ujian nasional. Karena beragam kesibukan, saya tidak berniat untuk mengawas ujian nasional tahun 2013. Tapi takdir mengatakan lain. Meskipun saya mendaftarkan diri sebagai calon pengawas di detik-detik terakhir rekruitmen pengawas UN 2013 secara online yang dilaksanakan Baliteks Unsri, tetapi keisengan ini menyebabkan saya dikirim ke Kota Muara Dua, ibukota Kabupaten OKU Selatan.

    4 April 2013, pukul 5 sore, saya dihubungi pihak Baliteks Unsri via telepon. Mereka meminta kesediaan saya menjadi pengawas ujian nasional di Madrasah Aliyah Blambangan. Saya kaget dan heran mengapa pihak Baliteks Unsri baru menghubungi saya H-1 sebelum pelaksanaan ujian nasional. Saya katakan kepada mereka jika saya bersedia, bagaimana saya berangkat ke Muara Dua, OKU Selatan. Padahal, keberangkatan travel jurusan Palembang – Muaradua adalah pukul 5 sore. Pihak Baliteks Unsri menyerahkan sepenuhnya teknis keberangkatan saya ke Muaradua. Saya katakan kepada pihak Baliteks Unsri, beri waktu saya berpikir sekitar 10 menit untuk memikirkan teknis keberangkatan ke Muaradua. Dalam waktu 10 menit itu, saya menghubungi nomor travel jurusan Palembang – Muaradua, tapi tak satupun yang diangkat. Akhirnya, saya berpikir, tidak ada pilihan lain selain membawa mobil sendiri. Meski terasa berat di hati karena dikejar-kejar sang waktu, tapi karena mengawas ujian nasional merupakan tugas negara, saya pun melangkah dengan yakin.

    Pukul 5.30 sore, saya langsung meluncur ke Kantor Baliteks Unsri untuk mengambil beberapa perlengkapan administratif pengawasan ujian nasional. Tak lupa, ini yang sepele tapi penting, saya meminta amunisi selama di perjalanan. Ba’da magrib saya langsung meluncur ke Indralaya untuk menyiapkan pakaian yang akan dibawa ke Muaradua. Setelah mandi, sholat, dan makan malam, pukul 9 semalam saya langsung meluncur ke Muaradua dengan jalur Prabumulih – Baturaja – Martapura. Jalur ini relatif tidak macet karena volume kendaraan yang melintas tidak sepadat di siang hari. Menjelang memasuki wilayah Kabupaten Ogan Komering Ulu, perjalanan saya diwarnai hujan deras beserta angin kencang. Akibatnya, kendaraan yang melaju mengurangi kecepatannya.

    Di Kota Prabumulih, saya melewati beberapa lintasan kereta api yang tidak memiliki pintu perlintasan yang dijaga petugas resmi PT. Kereta Api Indonesia. Yang menjaganya adalah beberapa remaja setempat yang sedang memainkan peran seperti Pak Ogah dan Pak Ableh dalam serial film kartun Si Unyil. Fenomena serupa juga saya temui di beberapa desa yang termasuk dalam yuridiksi Kabupaten Ogan Komering Ulu. Jika di Kota Prabumulih, pintu perlintasan yang dijadikan “pos penjagaan”, maka di Kabupaten Ogan Komering Ulu, beberapa ruas jalan yang rusak disulap beberapa remaja sebagai pos pungli (pungutan liar). Beberapa meter dari lobang-lobang yang ada di jalan raya tersebut mereka beri tanda ranting-ranting pohon sebagai sinyal agar sopir mengurangi kecepatan kendaraan mereka.

    Pukul 01.00 dinihari, saya tiba di Kota Baturaja. Saya mampir sebentar di “markas besar” temen-temen dosen Universitas Baturaja. Ketika saya datang, mereka sedang asyik nonton film India. Kami sedang rehat, ujar mereka. Sejak pagi tadi, mereka sudah mengotak-atik beragam data untuk menyusun dokumen akreditasi Fakultas Pertanian Universitas Baturaja. Satu jam menonton film India sambil duduk santai dan bercerita ringan, berangsur-angsur kelelahan yang melanda tubuh saya sedikit berkurang. Saya katakan ke temen-temen, film India mungkin memproduksi energi positif bagi penontonnya. Mereka tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan saya.

    Pukul 02.00 dinihari, saya pamit kepada mereka untuk melanjutkan lagi perjalanan ke Kota Muaradua. Dari Baturaja, ada dua pilihan jalan untuk sampai ke Muaradua. Pertama, melalui Kecamatan Lengkiti. Dan yang kedua, melalui Kota Martapura. Atas saran teman-teman, saya memilih jalur yang melalui Kota Martapura.

    Jalur Martapura – Muaradua malam itu sunyi sekali. Hampir tidak ada mobil yang melintas, baik dari arah Martapura maupun dari arah Muaradua. Semua tampak terlelap dalam buaian cuaca malam dingin. Kondisi jalannya bagus meski agak sempit. Jam 4 subuh baru terlihat beberapa kendaraan barang menuju Muaradua dan/atau Baturaja. Ditengah jalan, ketika alunan bacaan al-Quran mulai terdengar, saya ditelpon salah satu tim Unsri yang sudah terlebih dahulu tiba di Muaradua. Pesannya singkat: saya diminta segera ke Penginapan Widyaloka karena kepala sekolah Madrasah Aliyah Blambangan, Purwanto, S.Pd.i, sudah siap membawa ke lokasi madrasah tersebut. Saya katakan, 30 menit lagi, insya Allah, saya sampai di Penginapan Widyaloka. Dalam hati saya berpikir bahwa pernyataan tim Unsri tadi jelas menunjukkan bahwa saya tidak mengawas di MAN Muaradua seperti tahun lalu. Tahun lalu, saya mengawas UN di MA al-Islamiyah, OKU Selatan. Tetapi, karena siswanya sedikit tempat pelaksanaan ujiannya digabung di MAN Muaradua.

    Setibanya di Penginapan Widyaloka, saya langsung disambut Pak Purwanto dan salah seorang tim Unsri. Karena dikejar waktu, kami tidak sempat ngobrol terlalu banyak. Pak Purwanto ditemani salah seorang tim Unsri segera meluncur ke Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten OKUS. Sedangkan saya mempersiapkan diri untuk menempuh perjalanan ke Blambangan. Menurut info dari Pak Purwanto, Muaradua – Blambangan akan ditempuh selama 2 jam perjalanan. Astaga! Badan saya langsung lemes. Padahal, saya sudah membayangkan untuk memanjakan mata saya yang ngantuk berat di salah satu kamar Penginapan Widyaloka. Ketika mereka berdua pergi, saya langsung pergi ke kamar untuk mandi dan menyiapkan pakaian. Saya segera memutuskan menginap karena terlalu melelahkan jika harus bolak-balik Muaradua – Blambangan.

    Tak sampai 1 jam, Pak Purwanto sudah muncul kembali di Penginapan Widayaloka. Saya langsung naik ke mobil tuanya dan duduk di kursi depan disamping Pak Purwanto yang memegang gagang setir. Kami langsung terlibat obrolan santai. Topiknya berkisar mulai dari kondisi jalan, kondisi sekolah, dan informasi pribadi masing-masing. Saya hanya bisa menemani Pak Purwanto ngobrol selama lebih kurang 30 menit. Setelah itu, mata saya tidak bisa diajak kompromi. Seakan ada bandul yang beratnya puluhan kilo bergantung dikelopak mata saya tipis. Saya tertidur lelap. Saking lelapnya, saya tetap tidur ketika mobil yang kami tumpangi melintasi jalan berlobang.

    15 menit sebelum sampai di Blambangan, saya terbangun. Saya langsung bertanya ke Pak Purwanto, masih jauhkah Blambangan itu pak? Sudah dekat pak, jawab Pak Purwanto. Mata saya langsung memutar. Yang pertama saya lihat adalah jalan raya yang penuh lobang dan berkelok. Ketika pandangan saya arahkan ke kiri, saya melihat barisan bukit dan lembah yang menghijau di kejauhan. Tak lama kemudian, Pak Purwanto berucap, nah…kita sudah sampai pak. Mobil kami terlihat memasuki perkampungan yang dipenuhi dengan deretan rumah panggung tua yang panjang dan lebar. Sebagian rumah tersebut sudah ditembok dengan batubata di bawahnya sehingga bisa dijadikan tempat tinggal juga.

    Tepat pukul 7 pagi, saya tiba di rumah Pak Purwanto yang sederhana. Rumahnya bukan rumah panggung, tapi rumah modern yang terbuat dari batubata. Saya langsung disambut isteri beliau dengan ramah. Setelah menurunkan tas, saya dan Pak Purwanto langsung meluncur ke MA Blambangan. Lokasi sekolah itu tak jauh dari rumah Pak Purwanto. Sewaktu datang tadi, ternyata saya sudah melihatnya, tetapi saya tidak tahu bahwa gedung itu ruang belajar MA Blambangan. Sebab, bentuknya lebih mirip kantor kepala desa dan balai desa. Ternyata, dugaan saya benar, untuk menunjang proses belajar mengajar sehari-hari, MA Blambangan memanfaatkan kantor dan balai desa Blambangan.

    Di MA Blambangan, saya disambut delapan orang guru yang berseragam coklat lengkap dengan logo Kabupaten OKU Selatan. Saya katakan, kenalannya nanti saja bapak/ibu, jam 7.30 kita harus memulai ujian nasional. Pak Purwanto mengamini perkataan saya. Salah seorang guru segera memencet bel sebagai pertanda agar siswa-siswi segera masuk ke ruangan. Para guru yang bertugas sebagai pengawas segera mempersiapkan berkas ujian dan membawanya ke kelas. Ujian hari pertama hanya satu mata pelajaran, yakni Bahasa Indonesia. Jam 10.30 WIB, para siswa-siswi sudah harus menyelesaikan tugas mereka menjawab soal-soal Bahasa Indonesia yang dibuat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Di MA Blambangan, ada beberapa polisi dari Polsek Buay Runjung. Bahkan, Kapolsek Buay Runjung sempat mampir ke MA Darussalam hingga makan siang bersama di rumah Pak Purwanto.

    Dari Kapolsek Buay Runjung, saya tahu bahwa seluruh soal UN SMAN 1 Blambangan sudah didrop di Polsek Buay Runjung. Hanya soal UN MA Blambangan yang belum didrop di Polsek Buay Runjung. Pak Purwanto menceritakan bahwa sewaktu dia mengambil soal hari pertama, dia sudah mengusulkan kepada pihak Unsri agar seluruh soal bisa dibawa ke Blambangan. Tapi, pihak Unsri tidak mengijinkan. Atas dasar itu, saya menjanjikan kepada Pak Purwanto, Kapolsek, dan para guru yang bertugas bahwa saya akan melobi petugas Unsri agar mengijinkan seluruh soal didrop ke Polsek Buay Runjung.

    Jam 11.30, saya dan Pak Purwanto meluncur ke Muaradua. Mobil itu ternyata merk-nya Suzuki Carry. Padahal, kami berdua sebetulnya dilanda kelelahan yang sama. Selama perjalanan ke Muaradua, saya kembali disuguhi jalan yang berkelok, jurang yang dalam, kebun kobi, kebun karet, jalan berlobang, jalan yang diaspal mulus di beberapa ruas, dan areal perkebunan pohon mahoni milik Bupati OKU Selatan, Muhtadin Sera’i. Saya sempat tertidur selama di perjalanan meski tidak terlalu lama. Setiba di MAN Muaradua, saya segera menyerahkan naskah lembar jawaban ujian nasional (LUJN) kepada petugas dari Unsri. Saya juga melobi petugas tersebut agar mengijinkan seluruh soal UN untuk MA Blambangan bisa kami bawa untuk dititip di Polsek Buay Runjung. Setelah proses administrasi selesai dan kami berdua pergi ke mushola MAN Muaradua untuk melaksanakan sholat zuhur. Setelah sholat, kami berdua langsung merebahkan dan tertidur pulas selama 2 jam. Lumayan, kami bisa mengistirahatkan mata selama lebih kurang 2 jam.

    Tepat pukul 4 sore, kami segera meluncur pulang ke Blambangan. Tiba di rumah Pak Puwanto sekitar pukul 6.30 WIB. Setelah makan malam, saya langsung menelpon Raniasa Putra yang mengawasi UN di SMAN 1 Blambangan. Dia menginap di rumah kepala sekolah SMAN 1 Blambangan yang lokasinya tak jauh dari rumah Pak Purwanto. Ditemani adik iparnya Pak Purwanto segera meluncur ke tempat Raniasa Putra menginap. Kami disambut pak kepala sekolah SMAN 1 Blambangan dan isterinya. Rumah pak kepsek adalah rumah panggung. Raniasa Putra ditempatkan di lantai atas. Ketika kami ke atas, dia sedang tiduran dengan menggenakan sarung. Obrolannya macam-macam tetapi yang ringan-ringan saja. Pukul 10.00 WIB saya pulang ke rumah Pak Purwanto dan segera pergi tidur.

    Saya bangun pukul 06.30 WIB. Judulnya, saya kesiangan. Saya hanya melihat isteri Pak Purwanto sedang menyiapkan sarapan pagi. Saya langsung segera meluncur ke kamar mandi. Saya celupkan tangan saya ke air di bak kamar mandi. Saya terperanjat, air dinginnya sekali seperti air es. Nyali saya untuk mandi pagi langsung kecut. Tapi, saya harus segera mandi karena tugas negara sudah menunggu. Badan saya langsung mengigil akibat air desa Blambangan. Selesai mandi, saya langsung ganti pakaian dan segera meluncur ke sekolah. Setibanya di MA Darussalam, saya sudah melihat para guru dan siswa sudah siap melaksanakan UN hari kedua. Materinya adalah Ekonomi dan Bahasa Inggris.

    Tak ada yang menarik diceritakan tentang ujian nasional mata pelajaran Ekonomi. Sebaliknya, ujian nasioal mata pelajaran Bahasa Inggris sangat ‘seksi’ dijadikan shortcut untuk melihat kondisi pendidikan di Indonesia, wa bil khusus di Bumi Sriwijaya.

    Seperi tahun sebelumnya, salah satu section dalam soal ujian nasional mata pelajaran Bahasa Inggris adalah listening. Saya lupa berapa jumlah soalnya. Yang saya tahu, pihak sekolah menyiapkan dua unit tape recorder untuk memutar kaset soal listening yang telah disiapkan Kemendikbud. Saya bertanya kepada para guru yang ada, apakah siswa biasa mendapatkan pelajaran listening dari gurunya. Seolah sepakat, mereka semua menjawab tidak tahu. Mereka hanya memberi tahu bahwa guru Bahasa Inggrisnya masih berstatus honor dan sedang bertugas sebagai pengawas ruangan di salah satu SMA lainnya di Kabupaten OKU Selatan. Melihat fasilitas sekolah yang minim, saya merasa yakin bahwa para siswa-siswi tidak pernah mendapatkan pelajaran listening sebelumnya. Jika pun ada, pengalaman listening itu mereka dapatkan melalui lagu-lagu Barat yang ada di handphone mereka.

    MA Blambangan adalah madrasah swasta yang dikelola Yayasan Mangkuyudan yang dimiliki penduduk desa Blambangan. Jangankan laboratorium bahasa, ruang kelas pun mereka menumpang di balai desa yang disekat menjadi dua kelas. Kantor kepala desa dijadikan ruang guru. Guru Bahasa Inggris-nya adalah putri asli desa yang pernah kuliah di program studi Bahasa Inggris di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta tetapi drop out. Maka wajar saja jika siswa merasa bingung menghadapi soal listening. Belum lagi mereka selesai memikirkan jawaban soal nomor satu, tape recorder sudah mengeluarkan soal kedua.

    Ba’da sholat zuhur, saya dan Pak Zulfikri (salah satu guru MA Blambangan, alumni salah satu pondok pesantren di Solo) mengendarai sepeda motor mengantarkan lembar jawaban ujian nasional ke MAN Muaradua. Jantung saya berdegup kencang karena Pak Zulfikri memacu motor hondra supra fit di atas 60 km/jam ditengah jalan yang penuh lobang. Tubuh saya naik turun akibat guncangan sepeda motor. Tetapi, kecepatan dan perjuangan kami ke Muaradua tak sia-sia. Blambangan – Muaradua bisa ditempuh dalam 1 jam perjalanan. Celakanya, rasa penat di pantat tak bisa dihilangkan dalam jangka waktu 1 jam.

    Pulangnya, giliran saya yang menjadi driver. Saya berusaha menikmati jalan yang penuh lobang. Seolah patuh dengan peraturan perundang-undangan, kecepatan motor dipacu maksimal 60 kilometer/jam. Jika jalannya berlobang, kecepatan motor hanya 10 – 20 km/jam. Akibatnya, waktu tempuh perjalanan menjadi 2 jam lebih. Tepat pukul 5 sore, kami tiba di Blambangan dengan selamat. Saya langsung mandi, ganti baju, dan menikmati suasana sore di Blambangan yang diselimuti dengan suasana dingin. Listrik PLN lagi mati. Rumah Pak Purwanto agak gelap dan mesin genset belum dihidupkan. Saya duduk di beranda rumahnya sembari mencari posisi desa Blambangan melalui GPS yang ada di Blackberry. Saya harus menunggu cukup lama untuk menemukan sinyal Telkomsel. Di desa ini, tidak hanya bensin yang langkah, sinyal handphone juga langkah. Hanya ada beberapa titik di dalam desa yang sinyalnya kuat. Setelah sinyal cukup kuat, GPS Blackberry pun memberikan posisi desa Blambangan sebagai berikut: 4°26’37.71S,103°51’13.46E (Latitude: -4.44368, Longitude: 103.85372).

    Makam Pangeran Mangkuyudan

    Masyarakat desa Blambangan menganggap bahwa mereka merupakan keturunan Pangeran Mangkuyudan. Tidak ada yang tahu persis darimana asal usul Pangeran Mangkuyudan. Tetapi, masyarakat meyakini bahwa sosok yang dikeramatkan masyarakat Blambangan ini berasal dari Pulau Jawa. Jejak yang tersisa dari Pangeran Mangkuyudan hanya, yakni: makam dan tradisi mandi bagi pengantin laki-laki dan perempuan yang keduanya atau salah satu berasal dari desa Blambangan dan/atau akad nikah dan resepsi pernikahan dilaksanakan di desa Blambangan.

    Sumber ekonomi

    Mayoritas penduduk desa Blambangan adalah petani kopi (kawe). Rata-rata setiap kepala rumah tangga memiliki areal kebun minimal 3 hektar. Selain menanam kopi, mereka juga menanam komoditas padi dua kali setahun. Sebagian lagi, mengubah kebun kopi mereka dengan karet. Beberapa penduduk membuka toko sembako di rumah mereka. Ada juga yang berjualan pulsa handphone dan/atau bensin eceran.

    Meskipun rumah panggung mereka lebar dan panjang, tetapi penghuninya sedikit. Di depan rumah Pak Purwanto, misalnya, ada rumah panggung besar yang hanya dihuni sepasang suami isteri yang sudah tua. Seluruh anak-anaknya merantau ke daerah lain (Palembang, Lampung, Jakarta, Baturaja, dan Muaradua). Desa ini, kata adik iparnya Pak Purwanto, hanya ramai jika musim lebaran tiba. Semua penduduk yang merantau akan pulang untuk bersilaturahim dengan keluarga mereka di Blambangan.

    Pengangguran? Saya kira, sulit menemukan para pengangguran di desa ini. Bahkan orang tua yang seharusnya sudah masuk dalam kategori pensiunan masih aktif bekerja. Tampaknya, tidak ada nomenklatur pensiun bekerja bagi penduduk desa Blambangan.

    Persoalan sosial

    Satu-satunya persoalan sosial di desa Blambangan adalah kriminalitas, terutama yang berbentuk pencurian kendaraan bermotor. Bahkan, Kapolsek Buay Rujung memasukkan desa ini dalam kategori ‘merah’. Artinya, tingkat curanmor di desa ini sangat tinggi dan para pelaku curanmor kebanyakan berasal dari desa Blambangan. Pesan Kapolsek Buay Rujung, jangan coba-coba parkir motor di depan rumah yang luput dari pandangan dijamin bakal hilang. Celakanya, penduduk yang kehilangan motor tidak pernah mau melaporkan peristiwa yang menimpa mereka ke petugas kepolisian.

    Seorang petugas polisi yang kebetulan mengawas UN bercerita bahwa suatu ketika ia pernah mendatangi rumah penduduk yang kehilangan motor. Dia membujuk agar penduduk tersebut bersedia melaporkan secara resmi ke Polsek Buay Runjung. Apa jawaban penduduk itu? Dia katakan begini: pak polisi, saya memang kehilangan motor. Tetapi, sesungguhnya motor saya itu tidak hilang melainkan hanya berpindah tempat. Saya yakin, jika motor itu memang milik saya, dia akan kembali ke rumah ini dengan wujud yang sama atau berbeda. Pak polisi itu tak bisa berkata apa-apa lagi setelah mendengar jawaban dari penduduk tersebut.

    Jika dilanjutkan lagi, maka argumentasi penduduk tersebut bisa berbunyi seperti ini: peristiwa kehilangan itu menyebabkan kita merasa kehilangan karena kita merasa memiliki sesuatu. Jika kita merasakan bahwa kita tidak memiliki apa-apa dalam kehidupan ini, maka kita tidak akan pernah merasa kehilangan apapun. Inilah mungkin makna kalimat suci Allah SWT: kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi (QS. Al-Baqarah: 255).

    Pemekaran Desa

    Sebelum 2005, hanya ada satu desa Blambangan di Kecamatan Pembantu Buay Rujung, Kabupaten OKU. Setelah Kabupaten OKU Selatan dimekarkan dari Kabupaten OKU dan Muhtadin Sera’i sebagai Bupati OKU Selatan yang pertama, Buay Rujung ditetapkan sebagai kecamatan defenitif dan desa Blambangan dimekarkan menjadi empat desa, yakni: Desa Bedeng Blambangan, Desa Kagelang Blambangan, Desa Sukajadi Blambangan, dan Desa Prupus Blambangan. Blambangan kemudian dijadikan ibukota Kecamatan Buay Rujung. Jaraknya dari ibukota kabupaten (Muaradua) mencapai 40 kilometer. Sedangkan dari Kota Palembang, jaraknya mencapai 311 kilometer.

    Penduduk

    Wilayah kultural Blambangan yang secara administratif terbagi menjadi 5 desa memiliki populasi 4.000 ribu jiwa. Etnis mayoritas adalah etnis Daya. Sedangkan, etnis minoritas adalah Jawa, Batak, Ogan, Komering, Lampung, dan suku-suku lain di Sumatera Selatan.

    Adat istidat

    Mayoritas adat-istiadat masyarakat Blambangan berakar dari ajaran Islam. Mereka mempraktekkan marhaban (acara syukuran kelahiran bayi), tahlilan dan yasinan (doa bersama karena faktor kematian), akad nikah (acara pernikahan). Tetapi, ada juga adat istiadat yang berasal dari kreativitas kolektif masyarakat Blambangan. Contohnya adalah kasus semambangan dan pembagian waris.

    Semambangan adalah pernikahan antara seorang bujang dan seorang gadis yang tidak dimulai dengan proses lamaran, serah-serahan, dan resepsi. Tetapi, dimulai dengan tahapan seorang jejaka “membawa” seorang gadis ke rumah salah satu pejabat pemerintahan desa (biasanya rumah kades) dalam wilayah Kabupaten OKU Selatan. Sepasang calon mempelai ini kemudian meminta dinikahkan secara Islam kepada kades tempat mereka menginap. Adat mengatakan, kades tersebut wajib melindungi jiwa raga sepasang kekasih ini. Pak kades kemudian menghubungi orang tua laki-laki dan orang tua gadis. Selanjutnya, dimulailah proses lamaran dari pihak mempelai laki-laki ke mempelai perempuan. Dalam proses negosiasi antara keluarga laki-laki dan keluarga perempuan, posisi keluarga perempuan sangat lemah. Mereka, misalnya, tidak bisa menolak lamaran keluarga laki-laki tersebut. Jika ada kata mufakat diantara dua keluarga, dimulai proses akad nikah. Jika tidak ada kata mufakat diantara dua keluarga, maka pihak perempuan wajib memberikan wali kepada kades tempat kedua mempelai menginap agar pernikahan bisa dilangsungkan.

    Semambangan ini tidak sama dengan kawin lari. Sebab, dalam kawin lari, tidak ada proses lamaran, serah-serahan, negosiasi antar keluarga, dan sebagainya. Jika ingin kawin lari, sepasang calon pengantin cukup pergi ke Kantor Urusan Agama (KUA) setempat atau pergi ke rumah ketip dan minta dinikahkan secara Islam. Soal wali, pihak KUA dan ketip yang mengurus semuanya, termasuk mengkomunikasikan ke pihak laki-laki dan pihak perempuan.

    Semambangan adalah saluran bagi para muda-mudi di Blambangan untuk memotong rantai birokrasi adat pernikahan yang terkesan berbelit-belit. Bagi kaum muda di Blambangan, ada rasa bangga di hati mereka jika bisa melaksanakan pernikahan dengan mekanisme semambangan. Tentu saja, ketika orang tua tidak setuju dengan jalinan kasih cinta mereka, semambangan adalah pilihan terakhir agar rumah tangga idaman mereka dapat terwujud.

    Ada juga mekanisme pernikahan rasan tuo. Artinya, pihak orang tua bujang/gadis secara aktif mencarikan jodoh buat anak mereka. Tetapi, mekanisme sudah jarang terjadi kecuali untuk para jejaka dan gadis yang kesulitan mendapatkan jodoh alias berstatus bujang tuo dan gadis tuo.

    Kasus selanjutnya adalah soal pembagian waris. Fakta mengatakan bahwa seratus persen penduduk desa Blambangan beragama Islam. Menurut pengakuan mereka, nenek moyang mereka yang bernama Pangeran Mangkuyudan beragama Islam. Tetapi, soal waris mereka tidak mengikuti ketentuan pembagian sebagaimana digariskan al-Quran. Dalam adat istiadat masyrakarat Blambangan, anak perempuan tidak punya hak terhadap warisan orang tua mereka. Mereka dapat menerima tetapi tidak bisa menuntut harta warisan peninggalan orang tua mereka. Menurut ketentuan adat, seluruh harta warisan diperuntukkan untuk anak-anak laki-laki. Jika anak perempuan mendapatkan harta warisan, maka hal tersebut merupakan kebijakan personal orang tua masing-masing.

    Kondisi ini tercipta karena masyarakat Blambangan melihat status anak laki-laki lebih tinggi ketimbang anak perempuan. Dikaitkan dengan teori feminis, masyarakat Blambangan merupakan masyarakat yang patriarkhis. Warna patriarkhis itu bisa dilihat sampai hari ini. Jika kita duduk sore hari di pinggir jalan kampung, kita akan melihat ibu-ibu pulang dari kebun membawa kayu bakar untuk keperluan sehari-hari rumah tangga mereka. Jika ada kaum bapak yang pergi ke kebun mengambil kayu bakar, maka peristiwa itu kasuistis sekali dan hanya berlaku bagi sedikit laki-laki yang “sadar gender”.

    Menuju e-Learning

    Hari ketiga, hanya satu mata pelajaran yang diujikan, yakni Matematika. Saya punya banyak waktu untuk berkolaborasi dengan para guru MA Darussalam. Pasca mengawasi UN, saya dan Pak Zulfikri (salah satu guru MA Darussalam) pergi ke SMPN 1 Blambangan (berdiri tahun 1984/1985) untuk mencari sinyal jaringan seluler yang kuat dan stabil. Lokasi sekolah tersebut tak jauh dari tower milik Indosat sehingga sinyalnya kuat. Mulai jam 11.00 – 16.00, saya melatih Pak Zulfikri untuk mengoperasikan Edmodo (salah satu situs e-learning yang mudah dipelajari). Saya puas dengan capaian Pak Zulfikri menguasai Edmodo. Saya yakin, dia sudah siap mentransfer pengetahuan tersebut ke para guru lainnya.

    Keraguan Pak Zulfikri soal kemungkinan menerapkan Edmodo hanya tertuju pada satu hal: bagaimana caranya agar siswa-siswi bisa memiliki laptop pribadi. Jawaban saya sederhana: beli! Saya memberikan analogi sederhana sebagai berikut: jika seseorang mau ke syurga atau neraka, orang tersebut harus ikhtiar. Jangan terjebak dengan kata gratis. Pendidikan gratis itu sesungguhnya tidak betul-betul gratis. Sebab, biaya pendidikan gratis itu dibebankan kepada rakyat/masyarakat juga secara tidak langsung. Bersekolah itu Pak Zulfikri, ujar saya, merupakan bagian dari jihad fi sabilillah. Jika kita mengeluarkan uang untuk membeli komputer dalam rangka mendukung proses belajar mengajar anak-anak kita, maka itulah yang dimaksud dengan berjihad dengan harta. Saya sengaja menggunakan terminologi religius karena Pak Zulfikri merupakan salah satu alumni pondok pesantren di Kota Solo, Jawa Tengah.

    Habis makan malam, Pak Purwanto bertanya apakah Pak Zulfikri sudah memahami Edmodo. Saya jawab, insya allah pak, rasanya Pak Zulfikri sudah faham. Saya tahu, Pak Purwanto sangat berminat dengan Edmodo. Kami kemudian terlibat diskusi serius soal beragam alternatif untuk menyediakan akses internet bagi SMPN 1 Blambangan. Ketika areal SMPN 1 Blambangan sudah berstatus free Wi-Fi area, maka sumber belajar siswa akan semakin terbuka. Pilihan pertama, tentu saja, melobi beberapa sekolah negeri/swasta di sepanjang jalur Muaradua – Blambang untuk bersama-sama mendesak pihak Telkom agar memperluas jangkauan speedy ke jalur ini. Pilihan kedua, pihak sekolah membeli handphone merk Samsung yang bisa difungsikan sebagai internet access point berbasis wireless. Pilihan ketiga, melobi petugas mobil MPLIK untuk “parkir” di SMPN 1 Blambangan selama proses belajar mengajar berlangsung sehingga areal sekolah berubah menjadi Wi-Fi area. Saya katakan ke Pak Purwanto, pilihan ketiga ini paling realistis dan implementable karena saya pernah melihat satu mobil MPLIK di jalur Blambangan – Muaradua.

    MPLIK merupakan salah satu program Kementerian Informasi dan Komunikasi (INFOKOM) yang dipimpin Tifatul Sembiring. Tujuan program ini adalah menyediakan akses internet murah kepada seluruh rakyat Indonesia yang tidak memiliki komputer dan akses internet. Satu unit mobil MPLIK ditugasi melayani satu kecamatan. Artinya, ia harus keluar masuk desa untuk menjangkau para pengguna internet. Tetapi, prakteknya, petugas mobil MPLIK hanya “memarkirkan” mobil MPLIK-nya di satu titik tertentu saja. Sebab, pendapatan petugas mobil MPLIK dari sewa jasa internet selalu lebih kecil daripada bensin yang mereka keluarkan. Padahal, Kementerian Informasi dan Komunikasi tidak menyediakan biaya bensin. Ibarat pepatah Melayu, petugas mobil MPLIK selalu besar pasak daripada tiang.

    Hari kamis adalah hari terakhir pelaksanaan UN. Setelah mengantarkan LJUN ke MAN Muaradua, saya akan meluncur pulang ke Indralaya melalui jalur Muaradua – Martapura – Baturaja. Sepanjang perjalanan Blambangan – Muaradua di hari kamis itu, saya akan menunjukkan mobil MPLIK tersebut ke Pak Purwanto. Kami berdua akan sama-sama melobi petugas pengelola mobil MPLIK agar bersedia “parkir” selama proses belajar mengajar di SMPN 1 Blambangan. Jika petugas itu bersedia, maka jalan memanfaatkan Edmodo untuk mendukung proses belajar mengajar di SMPN 1 Belambangan semakin terbuka lebar. Sebab, sekolah itu sudah memiliki 40 unit desktop yang terkoneksi dengan wireless LAN. Edmodo membutuhkan akses internet dan MPLIK menyediakan itu.

    Hari terakhir di Blambangan

    Malam terakhir di Desa Blambangan, saya tidak bisa kemana-mana. Hujan deras menerpa sejak magrib sampai tengah malam. Saya dan Pak Purwanto melewatkan malam yang dingin itu dengan diskusi beragam topik. Pukul 11.00 WIB, saya pergi tidur.

    Hari terakhir ujian nasional, anak-anak MA Blambangan akan menjawab soal geografi dan sosiologi. Sekitar 06.30 WIB, saya, para pengawas ruangan, dan peserta UN sudah di sekolah. Tepat pukul 07.00 WIB, Pak Romadani (polisi dari Polsek Blambangan) membawa soal geografi dan sosiologi. Pukul 07.30, ujian mata pelajaran pertama dimulai. Sampai mata pelajaran kedua, semua berjalan normal.

    Tepat pukul 14.00 WIB, saya pamitan dengan Pak Purwanto sekeluarga, guru-guru MA Blambangan, dan aparat kepolisian Polsek Blambangan. Pak Purwanto batal mengantar dengan ke Muaradua, karena mobilnya rusak. Saya diantar Pak Zulfikri dengan roda dua. Sepanjang perjalanan, saya mencari mobil MPLIK yang sehari sebelumnya pernah saya lihat di jalur Blambangan – Muaradua. Tapi, hasilnya nihil. Setelah menyerahkan LJUN ke MAN Muaradua, saya langsung meluncur pulang ke Indralaya melalui jalur Muaradua – Martapura – Baturaja – Prabumulih – Indralaya. Pukul 11.00 WIB malam, saya tiba di rumah dengan selamat.

    Refleksi akhir

    Berdasarkan fenomena empiris yang saya amati, saya berkesimpulan bahwa sosok negara hadir sangat nyata di Desa Blambangan, Kecamatan Buay Rujung, Kabupten OKU Selatan, Provinsi Sumatera Selatan, Indonesia. Kompor gas, siaran televisi, infrastruktur jalan dan gedung sekolah, listrik, sinyal handphone, pegawai negeri sipil, siswa/siswi SMA/SMP, semuanya menunjukkan sosok negara yang abstrak hadir begitu nyata dalam kehidupan penduduk desa. Maka wacana negara gagal yang diwacanakan segelintir orang di Jakarta sesungguhnya tidak beralasan. Negara kita salah urus, ya. Dan salah urus ini bisa menyebabkan NKRI menjadi negara gagal juga ya. Tetapi, kualitas salah urus yang menghinggapi NKRI hari ini masih kurang bobotnya untuk menyebabkan NKRI terjebak dalam jurang negara gagal. Kaki-kaki NKRI itu menancap kuat dalam kehidupan rakyat Indonesia di pedesaan.

    Di desa Blambangan, kehidupan selalu berjalan normal. Beragam profesi penduduk berjalan sesuai dengan rel masing-masing. Di desa ini, salah urus negara itu tercermin dari persoalan infrastruktur jalan yang buruk dan harga BBM yang melonjak menjadi Rp6.000 per liter karena minimnya pasokan BBM dari Palembang. Di luar persoalan ini, tak ada keluhan yang mencuat dari penduduk desa Blambangan. Sebab, ujar salah satu tokoh masyarakat setempat, pembangunan itu bukan hanya bangunan fisik, tetapi juga non-fisik. Kesejahteraan dan kemajuan sebagai tujuan akhir pembangunan merupakan soal rasa (rasa aman, rasa damai, rasa tidak tertekan, rasa berkecupan). Maka, negara yang salah urus itu harus diubah menjadi negara yang diurus dengan benar menurut konstitusi Republik Indonesia. Bagaimana caranya? Kita harus mulai dari mana? Inilah pertanyaan yang menunggu jawaban dalam bentuk aksi nyata dari beragam komponen bangsa Indonesia. Saya optimis, saudara-saudaraku, kita bisa menjadi bangsa yang rahmatan lil alamin.

    Catatan ini membuat empat malam di Desa Belambangan yang dingin dan sering mati lampu menjadi lebih berkesan. Kesan seorang anak bangsa yang eksistensinya dalam rimba kekuasaan negara ibarat sebuah ranting kayu yang tua dan kering ditengah belantara hutan dengan pepohonan yang besar, rindang, kokoh dan tinggi menjulang. Semoga para pembaca budiman sekalian tercerahkan, terinspirasi dan tidak menganggap tulisan ini hanya ilusi belaka.

    Tak lupa, saya mengucapkan terima kasih atas keramahan keluarga besar Pak Purwanto dan MA Belambangan selama saya menetap di situ. Semoga silaturahim ini selalu terjaga dan memproduksi manfaat bagi kedua belah pihak. Terima kasih juga saya sampaikan kepada Rektor Universitas Sriwijaya yang telah mengirim saya ke Desa Belambangan sebagai pengawas tingkat satuan pendidikan dalam event Pengawasan Ujian Nasional SMA/Sederajat Tahun 2013.


Leave Your Comment:

  • grinLOLcheesesmilewinksmirkrolleyesconfused
    surprisedbig surprisetongue laughtongue rolleyetongue winkraspberryblank starelong face
    ohhgrrrgulpoh ohdownerred facesickshut eye
    hmmmmadangryzipperkissshockcool smilecool smirk
    cool grincool hmmcool madcool cheesevampiresnakeexcaimquestion





..:: Pimpinan Fakultas

Profil

Pendidikan

Jadwal Perkuliahan

Pascasarjana

Formulir dan Persyaratan

Category

Berita FISIP

Kumpulan Tulisan

  • [adji] alamsyah

    [adji]...

    23 April 2013, Selengkapnya »

  • Yunindyawati

    “ awalnyo… aku disuruh bak mbuangke puntung rokok…laju pingin nian aku nyubo ngrasoke cak mano rokok tu..laju kuisep puntung rokok tu…io...

    16 April 2013, Selengkapnya »

  • ibu Yunin

    Sejarah Sosiologi Sebagai Ilmu Pengetahuan SEJARAH PERKEMBANGAN SOSIOLOGI SEBAGAI ILMU...

    16 April 2013, Selengkapnya »

  • Yunindyawati, S.Sos., M.Si.

    Yunindyawati, S.Sos., M.Si. PENYEBARAN PENDUDUK: MIGRASI, TRANSMIGRASI, URBANISASI Yunindyawati/SPD/I363100011/S3 A. ...

    16 April 2013, Selengkapnya »

Beasiswa

  • DAFTAR NAMA MAHASISWA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK CALON PENERIMA BEASISWA BPP-PPA TAHUN 2015

    DAFTAR NAMA MAHASISWA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU...

    31 Maret 2015, Selengkapnya »

  • DAFTAR NAMA MAHASISWA FISIP CALON PENERIMA BEASISWA PPA TAHUN 2015

    DAFTAR NAMA MAHASISWA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU...

    31 Maret 2015, Selengkapnya »

  • Daftar Nama Mahasiswa FISIP Calon Penerima Beasiswa SUPERSEMAR Th.2015

    DAFTAR NAMA MAHASISWA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK CALON PENERIMA BEASISWA...

    30 Maret 2015, Selengkapnya »

Jurnal Publikasi

  • Kepada Seluruh Dosen FISIP UNSRI

    ...

    17 April 2015, Selengkapnya »

  • Indra Dirhamsyah, M.Si

    “IMPLEMENTASI KEBIJAKAN IZIN PENANGKARAN DI BALAI KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM...

    04 November 2013, Selengkapnya »

  • Don Suherta1 Kgs. M. Sobri2, Andries Lionardo3

    IMPLEMENTASI PERATURAN PRESIDEN NOMOR 54 TAHUN 2010 TENTANG PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH (STUDI PENELITIAN PADA DINAS PERHUBUNGAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA KABUPATEN PADANG PARIAMAN,...

    04 November 2013, Selengkapnya »

Kegiatan Akademik

  • Kalender Akademik FISIP UNSRI 2015/2016

    ...

    16 Oktober 2015, Selengkapnya »

  • Tim Penguji, Peserta dan Jadwal Seminar Proposal Skripsi Mahasiswa Jurusan Ilmu Administrasi Negara Periode 23 September 2015

    Tim Penguji, Peserta dan Jadwal Seminar Proposal Skripsi  Mahasiswa Jurusan Ilmu...

    21 September 2015, Selengkapnya »

  • Tim Penguji, Peserta dan Jadwal Seminar Proposal Skripsi Mahasiswa Jurusan Sosiologi Periode 22 September 2015

    Tim Penguji, Peserta dan Jadwal Seminar Proposal Skripsi  Mahasiswa Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan...

    21 September 2015, Selengkapnya »

  • Tim Penguji, Peserta dan Jadwal Seminar Proposal Skripsi Mahasiswa Jurusan Ilmu Administrasi Negara Periode 22 September 2015

    Tim Penguji, Peserta dan Jadwal Seminar Proposal Skripsi  Mahasiswa Jurusan Ilmu Administrasi...

    21 September 2015, Selengkapnya »

Lowongan Kerja

  • LOKER PT. BRI (PERSERO) Tbk KANTOR CABANG KAYUAGUNG

    ...

    11 Maret 2015, Selengkapnya »

  • LOKER PT. BRI (PERSERO) Tbk KANTOR CABANG PEMBANTU INDRALAYA

    ...

    11 Maret 2015, Selengkapnya »

Tags Cloud

Polling

  • Bagaimana menurut Anda tentang Tampilan Website FISIP UNSRI?

    Sangat Baik

    Baik

    Cukup Baik

    Kurang Baik