Yunindyawati

16 April 2013, 17:54, dibaca 3165 kali
Share |

“ awalnyo… aku disuruh bak mbuangke puntung rokok…laju pingin nian aku nyubo ngrasoke cak mano rokok tu..laju kuisep puntung rokok tu…io nian lamo-lamo lemak..makonyo bak aku cak galak nian dio ngrokok…”

 

PERILAKU MEROKOK ANAK PUTUS SEKOLAH
DI WILAYAH PERKOTAAN DAN PERDESAAN
(Studi Komparasi di Kecamatan Kayuagung dan Lempuing Kabupaten OKI)


Yunindyawati

Dosen jurusan Sosiologi FISIP Universitas Sriwijaya


Absrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran perilaku merokok anak putus sekolah di wilayah perkotaan dan perdesaan, di Kayu agung dan Lempuing kabupaten OKI. Metode yang digunakan adalah gabungan antara metode kuantitatif dan kualitatif. Sebanyak 100 responden anak putus sekolah diobservasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Perilaku merokok anak banyak dipengaruhi oleh berbagai Faktor, baik Faktor internal maupun eksternal. Lingkungan internal berkaitan dengan kondisi pribadi anak dan faktor eksternal berhubungan dengan lingkungan keluarga dan lingkungan pergaulan. Kondisi pribadi anak seperti usia anak, alasan anak/individu merokok, pengetahuan tentang rokok, serta keinginan berhenti merokok merupakan berbagai faktor internal yang mempengaruhi perilaku merokok anak. Faktor keluarga yang bisa mempengaruhi perilaku merokok antara lain; siapa anggota keluarga yang merokok, jumlah anggota keluarga yang merokok, tahu tidaknya orang tua, ada tidaknya sangsi dari orang tua, pendidikan orang tua. Faktor lingkungan pergaulan meliputi; informasi tentang rokok, bagaimana aktifitas merokok, dilakukan dengan siapa, serta pengaruh teman yang mempengaruhi perilaku merokok anak.

Kata kunci: perilaku, merokok, anak, putus sekolah, perkotaan, perdesaan

Abstract

The aim of this research was to understanding of Smoking Behaviour of Children Drop Out of School in City and Rural Area (Comparation Study in Kayu Agung and Lempuing District Of OKI). Mix method between quantitative and qualitative was used. There were 100 respondent of Children Drop out of School that observed. The result showed that some factors influencing of Smoking Behaviour of Children Drop out of School in City and Rural Area were internal and external factors. Internal factor connected with personality of children. External factors correlated with family environment and peer group. Condition Psychology of children depend on age, reason to smoking, knowledge about smoke, and motivation to stop smoking. Family factors influencing behaviour of smoking were number of people in home that smoking, knowing parent about behaviour smoking of children, punishment and school degree of parent. Environment factors among; information about smoke, how activity of smoking, with who, and friend influence to smoking.

Key words: behaviour, smoking, childen, drop out, city, rural.

 

Pendahuluan

Anak putus sekolah merupakan sebuah masalah sosial yang perlu mendapat perhatian. Anak adalah generasi penerus estafet bangsa, yang perlu mendapatkan pendidikan memadai sehingga tumbuh menjadi generasi yang berguna bagi masyarakat dan negara. Jika banyak anak mengalami putus sekolah tentu akan menurunkan kualitas bangsa di kemudian hari. Fenomena anak putus sekolah seringkali berkaitan dengan kebiasaan merokok. Waktu luang dan lingkungan pergaulan membuat mereka dekat dengan kebiasaan merokok.

Merokok merupakan fenomena yang tidak hanya terjadi pada orang dewasa juga terjadi pada anak-anak dan remaja. Prevalensi anak merokok di Indonesia sudah pada tingkat yang sangat memprihatinkan. Usia anak merokok semakin bergeser hingga usia tujuh tahun. Realitas adanya pergeseran usia yang signifikan dalam profil perokok Indonesia dengan ledakan jumlah perokok usia anak, maka dapat diprediksi bahwa pada tahun 2020 kemungkinan besar profil penderita penyakit akibat merokok adalah generasi yang berusia lebih muda. Kekhawatiran ini beralasan karena menurut data Badan Pusat Statistik jumlah perokok pemula umur 5-9 tahun naik secara signifikan dari 0,4 persen menjadi 2,8 persen (BPS, 2001-2004).

Rokok merupakan salah satu zat adiktif yang bila digunakan dapat mengakibatkan bahaya kesehatan bagi individu dan masyarakat karena dalam rokok terdapat nikotin yang bersifat adiktif dan tar yang bersifat karsinogenik yang dapat mengakhibatkan berbagai penyakit. Dengan kandungan zat yang ada di dalamnya rokok dapat menjadi pintu masuk ke narkotika dan obat-obatan terlarang lainnya
Efek dari rokok/tembakau memberi stimulasi depresi ringan, gangguan daya tangkap, alam perasaan, alam pikiran, tingkah laku dan fungsi psikomotor. Kajian lain menunjukkan setiap perokok menghisap dua bungkus rokok, dia telah mengurangi umurnya selama 8 tahun. Begitu juga dengan orang yang kena asap dari dua bungkus rokok, akan mengurangi umurnya selama empat tahun (Andi Utama, Republika, Rabu 2 Juni 2004).

Melihat bahaya merokok yang lebih besar pada anak-anak, terutama anak putus sekolah yang cenderung dekat dengan lingkungan dan pergaulan anak merokok maka penelitian ini akan melihat faktor-faktor penyebab perilaku merokok anak putus sekolah di wilayah perkotaan dan perdesaan. Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor penynebab perilaku merokok pada anak putus sekolah meliputi meliputi faktor internal dan eksternal di wilayah perkotaan dan perdesaan.

Tinjauan pustaka
Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (Zain, 1996:1175) rokok diartikan sebagai tembakau yang digulung dengan kertas, daun nipah, kulit kelongsong jagung kecil sedikit dari besar kelingking dan panjangnya kira-kira 8-10 cm, diisap orang setelah dibakar ujungnya. Sedangkan berdasarkan Wikipedia Indonesia (Ensiklopedia Bebas Berbahasa Indonesia) rokok adalah silinder dari kertas berukuran panjang antara 70 hingga 120 mm (bervariasi tergantung negara) dengan diameter sekitar 10 mm yang berisi daun-daun tembakau yang telah dicacah. Rokok dibakar pada salah satu ujungnya dan dibiarkan membara agar asapnya dapat dihirup lewat mulut pada ujung lain.

Perilaku merokok ini dapat dianalisa berdasarkan paradigma perilaku sosial. Secara singkat pokok persoalan sosiologi menurut paradigma ini adalah tingkahlaku individu yang berlangsung dalam hubungannya dengan faktor lingkungan yang menghasilkan akibat-akibat atau perubahan dalam faktor lingkungan menimbulkan perubahan terhadap tingkah laku. Jadi, terdapat hubungan fungsional antara tingkah laku dengan perubahan yang terjadi dalam lingkungan aktor. Lingkungan sosial dimana individu berada mempengaruhi pola tingkah laku individu tersebut. Lingkungan yang baik cenderung akan membentuk pola tingkah laku individu yang baik, begitu pula dengan lingkungan sosial yang kurang baik maka cenderung akan membentuk pola tingkah laku yang kurang baik pada individu yang terdapat di dalamnya. Lingkungan ini sendiri terdiri dari yaitu: bermacam-macam objek sosial seperti makhluk hidup yang ada di sekitar kita dan dapat berinteraksi, dan bermacam-macam objek non-sosial seperti benda-benda mati yang tidak dapat melakukan interaksi serta nilai dan norma (Ritzer, 2002:71-72).

B.F. Skiner berpandangan bahwa manusia dibentuk oleh lingkungan. Manusia lahir dengan potensi yang bisa dikembangkan ke arah mana saja. Melalui proses pembentukan (shaping) manusia menjadi sosok tertentu dengan kepribadian tertentu. Pada prinsipnya manusia bukanlah organisme yang pasif, akan tetapi ia aktif mencari akibat-akibat atau konsekuensi yang menyenangkan.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa lingkungan memiliki kaitan yang cukup erat dengan perubahan perilaku individu seperti yang telah diuraikan di atas tadi. Perubahan lingkungan tersebut dapat berupa perubahan pemberian nilai dan norma pada anak yang telah beranjak remaja, dimana pada masa remaja anak atau remaja itu sendiri diberikan pengawasan yang lebih ketat dibanding pada masa kanak-kanak. Hal ini dapat disebabkan oleh pada masa remaja berpotensi untuk berperilaku menyimpang.

Skiner juga mengemukakan bahwa perilaku merupakan respons/reaksi seseorang terhadap stimulan (rangsangan dari luar). Oleh karena itu perilaku ini terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme dan kemudian oragnisme tersebut merespon, maka teori Skiner ini disebut teori ”S-O-R” Stimulus-Organisme-Respons. Skiner membedakan perilaku menjadi:

1. Innate Behavior (Perilaku Alami) yaitu perilaku yang terjadi sebagai reaksi secara spontan terhadap stimulus yang mengenai oraganisme yang bersangkutan. Perilaku semacam ini merupakan perilaku yang dibawa sejak organisme dilahirkan, yaitu berupa refleks-refleks.

2. Operant Behavior (Perilaku Operan) yaitu perilaku yang dibentuk melalui proses belajar.

Di dalam memberikan respons dari stimulus organisme sangatlah tergantung pada karakteristik/faktor-faktor lain yang bersangkutan. Hal ini berarti bahwa meskipun stimulusnya terhadap beberapa orang sama, namun respon tiap-tiap orang berbeda.

Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku ini dapat dibedakan menjadi 2 terdiri dari: pertama, faktor internal yaitu karakteristik orang yang bersangkutan, yang bersifat given (bawaan). Kedua, faktor eksternal yaitu lingkungan, baik lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, politik, dan sebagainya. Faktor lingkungan ini merupakan faktor yang dominan yang mewarnai perilaku seseorang.
Berdasarkan uraian diatas maka dapat diasumsikan bahwa faktor penyebab perilaku anak putus sekolah bisa dipengaruhi faktor eksternal dan internal.

Metodologi

Kajian dilaksanakan di kabupaten Ogan Komering Ilir. Metode yang digunakan adalah survey dan studi mendalam. Pendekatan penelitian adalah gabungan antara pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Pendekatan kualitatif digunakan untuk mendiskripsikan perilaku anak merokok, lingkungan keluarga dan sekolah serta pergaulan anak, dan bagaimana persepsi anak tentang merokok, pendekatan kuantitatif digunakan untuk menjelaskan hubungan antar faktor penyebab.

Populasi penelitian adalah anak putus sekolah yang berada di wilayah kecamatan Kayu Agung (perkotaan) dan kecamatan Lempuing (wilayah perdesaan). Responden dipilih secara acak (random sampling), sebanyak 100 anak putus sekolah di dua lokasi yakni kecamatan Kayu Agung (perkotaan) dan kecamatan Lempuing (perdesaan). Studi mendalam dilakukan terhadap kasus-kasus spesifik yang ditemukan di masing- masing daerah.

Hasil dan Pembahasan
Perilaku merokok anak banyak dipengaruhi oleh berbagai Faktor, baik Faktor internal maupun eksternal. Lingkungan internal berkaitan dengan kondisi pribadi anak dan faktor eksternal berhubungan dengan lingkungan keluarga dan lingkungan pergaulan maupun sekolah. Kondisi pribadi anak seperti usia anak, alasan anak/individu merokok, pengetahuan tentang rokok, serta keinginan berhenti merokok merupakan berbagai faktor internal yang mempengaruhi perilaku merokok anak. Faktor keluarga yang bisa mempengaruhi perilaku merokok antara lain; siapa anggota keluarga yang merokok, jumlah anggota keluarga yang merokok, tahu tidaknya orang tua, ada tidaknya sagsi dari orang tua, pendidikan orang tua. Faktor lingkungan pergaulan meiputi; informasi tentang rokok, bagaimana aktifitas merokok, dilakukan dengan siapa, serta pengaruh teman yang mempengaruhi perilaku merokok anak.

Faktor individu

Di kota Kayu Agung fenomena perilaku merokok pada anak putus sekolah cukup banyak dijumpai. Sebagai ibu kota kabupaten, kota Kayuagung cukup memberikan peluang bagi anak putus sekolah untuk menyambung hidupnya bekerja pada sector informal. Banyak sector pekerjaan bisa dimasuki oleh anak putus sekolah seperti pedagang asongan, penjual Koran, pengamen, bekerja di steam mobil, buruh/tukang, tukang ojek, kondektur/kenek, juru parkir serta pencari ikan dan pembuat salai ikan.

Anak-anak putus sekolah memiliki alasan pribadi untuk merokok. Biasanya merokok di kalangan anak-anak menunjuk pada sifat macho, keren, jantan, tidak banci dan biar dianggap dewasa. Kondisi ini membentuk sistem nilai pada diri anak yang akhirnya akan menentukan keputusan anak untuk memilih merokok. Namun sering kali keputusan anak ini tidak didasari pertimbangan yang kuat dan matang.

Ada semacam ketakutan anak kehilangan lingkungan pergaulan jika mereka tidak berperilaku merokok seperti yang dilakukan teman-teman sebaya mereka yang merokok. Peran teman sebaya sebagai acuan (reference group) yang secara langsung maupun tidak dijadikan perantara (agen) proses sosialisasi merokok anak.

Di kalangan anak putus sekolah ternyata pengaruh teman yang paling menonjol mempengaruhi perilaku merokok mereka. Hal ini bisa difahami karena mereka memiliki banyak waktu dan kesempatan untuk bertemu karena sudah tidak terikat waktu sekolah.

Selain Faktor pengaruh teman, Faktor iseng dan ingin mencoba menjadi alasan mereka merokok. Anak putus sekolah memiliki tipe kepribadian yang rentan dipengaruhi lingkungan pergaulan mereka. Keterbukaan mereka memberi peluang untuk terlibat interaksi lebih luas, sehingga mereka lebih cepat meniru (imitasi) perilaku teman mereka.

Dalam sehari anak putus sekolah bisa menghabiskan 6-15 batang rokok. Jumlah ini cukup banyak untuk ukuran merokok di usia anak-anak. Sebenarnya di kalangan anak putus sekolah sudah mengetahui tentang bahaya merokok dari berbagai sumber. Namun mereka tetap merokok dengan berbagai alasan diantaranya terlanjur menikmati kebiasaan merokok.

Berbeda dari alasan anak putus sekolah pertama kali merokok di Kecamatan Kayu Agung yang mayoritas karena pengaruh teman, maka di Kecamatan Lempuing menunjukkan mayoritas alasan mereka merokok karena keinginan untuk mencoba rokok. Usia anak putus sekolah di Lempuing yang masih anak-anak ini menimbulkan hasrat keinginan mencoba merokok. Waktu luang yang dimiliki menimbulkan keinginan untuk sekedar iseng dan kemudian berubah menjadi kebiasaan.
 

ada baiknya di download disini ya.. yunin4.pdf

Trim's u bu yunin, by admin



..:: Pimpinan Fakultas

..:: Link Universitas

 

 

 

 

 

 

 

..:: Organisasi Mahasiswa

 

 

 

..:: Organisasi